Induksi Matematika
(Muhamad Rayyen Alfareza Bukhari ~ XI IPS 2)
1.Logika Matematika
Matematika merupakan ilmu yang
memiliki cakupan yang sangat luas. Matematika bukan hanya mempelajari
angka dan perhitungan saja. Namun, terdapat hal-hal yang dipelajari
dalam matematika selain hitung-menghitung, salah satunya adalah logika
matematika.
Logika matematika akan memberikan
landasan tentang bagaimana cara kita mengambil kesimpulan. Hal-hal pada
logika matematika yang akan kita pelajari kali ini antara lain mengenai
pernyataan, ingkaran, hubungan antara dua kalimat atau lebih serta
bagaimana menarik kesimpulan dari kalimat-kalimat yang diberikan.
Tahap logika antara lain pernyataan,
negasi, disjungsi, konjungsi, implikasi, biimplikasi,dua pernyataan
yang ekuivalen, kalimat berkuantor, serta penarikan kesimpulan.
a.Pernyataan
Pada dasarnya, pernyataan
merupakan suatu kalimat yang bernilai benar ataupun salah, namun tidak
keduanya. Sedangkan, suatu kalimat dikatakan bukan pernyataan jika kita
tidak dapat menentukan apakah kalimat tersebut benar atau salah atau
mengandung pengertian relatif. Di dalam logika matematika terdapat dua
jenis pernyataan, yaitu pernyataan tertutup dan pernyataan terbuka.
Pernyataan tertutup merupakan pernyataan yang sudah bisa dipastikan
nilai kebenarannya.
Pernyataan terbuka yaitu pernyataan yang
belum bisa dipastikan nilai kebenarannya.
Contoh:
- 10 + 2 = 12 (pernyataan tertutup yang bernilai benar)
- 4 × 8 = 20 (pernyataan tertutup yang bernilai salah)
- 5a + 20 = 40 (pernyataan terbuka, karena harus dibuktikan kebenarannya)
- Jarak Jakarta-Bogor adalah dekat (bukan pernyataan, karena dekat itu relatif)
b.Ingkaran/Negasi (~)
Ingkaran
didefinisikan sebagai sebuah pernyataan yang memiliki nilai kebenaran
yang berlawanan dengan pernyataan semula. Berikut adalah tabel kebenaran
ingkaran.
Artinya, jika suatu pertanyaan (p) bernilai benar (B), maka ingkaran (q) akan bernilai salah (S). Begitu pula sebaliknya.
Contoh:
p : Semua murid lulus ujian
~p : Ada murid yang tidak lulus ujian
c. Pernyataan Majemuk
Pernyataan majemuk merupakan
pernyataan gabungan dari beberapa pernyataan tunggal yang dihubungkan
dengan kata hubung. dengan tanda ",", "dan", "atau", "jika ..., maka ... " dan " ... jika dan hanya jika ....".
Pernyataan majemuk di dalam logika matematika
terdiri dari disjungsi , konjungsi , implikasi , dan biimplikasi.
Suatu pernyataan p dan q dapat digabungkan dengan menggunakan kata hubung ‘dan’ sehingga membentuk pernyataan majemuk ‘p dan q’ yang disebut konjungsi yang dilambangkan dengan “p∧q”. Berikut adalah tabel kebenaran konjungsi.
| p |
q |
p∧q |
| B |
B |
B |
| B |
S |
S |
| S |
B |
S |
| S |
S |
S |
Dari tabel diatas dapat disimpulkan bahwa dalam konsep konjungsi akan bernilai benar jika dan hanya jika kedua pernyataan (p dan q) benar
Contoh:
Budi sudah makan belajar dan makan
Misalkan, untuk dapat diizinkan
bermain oleh Ibu, Budi harus memenuhi kondisi di atas. Jika satu saja
atau bahkan kedua pernyataan tersebut dilanggar, maka Budi tidak
diizinkan untuk bermain.
Suatu pernyataan p dan q dapat digabungkan dengan menggunakan kata hubung ‘atau’ sehingga membentuk pernyataan majemuk ‘p atau q’ yang disebut disjungsi yang dilambangkan dengan “p ∨ q”. Berikut adalah tabel kebenaran disjungsi.
| p |
q |
p∨q |
| B |
B |
B |
| B |
S |
B |
| S |
B |
B |
| S |
S |
S |
Dari tabel diatas dapat disimpulkan bahwa dalam konsep disjungsi hanya akan bernilai salah jika kedua pernyataan (p dan q) salah.
Contoh:
Bandung atau Palembang adalah kota yang terletak di Pulau Jawa
Pernyataan Bandung adalah kota yang
terletak di Pulau Jawa adalah benar. Pernyataan Palembang adalah kota
yang terletak di Pulau Jawa adalah salah. Sehingga pernyataan Bandung
atau Palembang adalah kota yang terletak di Pulau Jawa bernilai benar.
Implikasi
bisa dipandang sebagai hubungan antara dua pernyataan di mana pernyataan
kedua merupakan konsekuensi logis dari pernyataan pertama. Implikasi
ditandai dengan notasi ‘⟹’. Misalkan p, q adalah pernyataan, implikasi berikut
p ⟹ q
dibaca ‘jika p maka q’. Berikut adalah tabel kebenaran disjungsi.
| p |
q |
p⇒q |
| B |
B |
B |
| B |
S |
S |
| S |
B |
B |
| S |
S |
B |
Dari tabel diatas dapat disimpulkan bahwa dalam konsep implikasi akan bernilai salah jika dan hanya jika sebab bernilai benar namun akibat bernilai salah. Selain itu implikasi bernilai benar.
Contoh:
Jika Budi sembuh maka Budi akan sekolah
Jika betul Budi sembuh lalu Budi
masuk sekolah, Budi telah melakukan hal yang benar. Namun jika Budi
sembuh namun dia tidak masuk sekolah, Budi telah berbuat salah karena
mengingkari janjinya. Lalu, bagaimana jika Budi belum sembuh? Perhatikan
bahwa Budi hanya berjanji masuk sekolah jika dia sembuh. Akibatnya jika
dia masih belum sembuh, tidak masalah bagi Budi untuk masuk sekolah
ataupun tidak karena dia tidak melanggar janjinya.
Suatu pernyataan p dan q dapat
digabungkan dengan menggunakan kata hubung ‘jika dan hanya jika’
sehingga membentuk pernyataan majemuk ‘p jika dan hanya jika q’ yang
disebut biimplikasi yang dilambangkan dengan “p ⇔ q”. Berikut adalah tabel kebenaran biimplikasi:
| p |
q |
p⇔q |
| B |
B |
B |
| B |
S |
S |
| S |
B |
S |
| S |
S |
B |
Dari tabel diatas dapat disimpulkan bahwa dalam konsep biimplikasi akan bernilai benar jika sebab dan akibatnya (pernyataan p dan q) bernilai sama. Baik itu sama-sama benar, atau sama-sama salah.
Contoh:
Ayah mendapatkan gaji jika dan hanya jika ayah bekerja
Jika ayah mendapatkan gaji maka ayah
bekerja dan jika ayah telah bekerja maka ayah akan mendapat gaji.
Sebalinya, jika ayah tidak mendapatkan gaji maka ayah sedang tidak
bekerja dan jika ayah tidak bekerja maka ayah tidak akan mendapat gaji.
d.Ekuivalensi pernyataan
– pernyataan majemuk
Ekuivalensi
pernyataan majemuk yaitu persesuaian yang diterapkan dalam pernyataan majemuk, metode ini kita
dapat mengetahui negasi dari pernyataan majemuk: konjungsi, disjungsi, implikasi dan juga
biimplikasi.Pernyataan majemuk yang memiliki nilai sama untuk semau kemungkinannya
dikatakan ekuivalen. Notasi ekuivalen dalam logika matematika adalah “

“.Konsep ekuivalensi dinyatakan dalam rumus-rumus tertentu,
seperti rumus berikut ini.
e. Konvers
Konvers adalah perubahan dari satu sistem ke sitem yang lain. Pernyataan q=>p disebut Konvers dari p=>q.
f. Implikasi (konvers, invers, kontraposisi)
- Konvers adalah perubahan dari satu sistem ke sitem yang lain. Pernyataan q=>p disebut Konvers dari p=>q.
- Invers adalah Pembalikan suatu susunan dari suatu susunan yang lazim. Pernyataan ~p=>~q disebut Invers dari p=>q.
- Kontraposisi merupakan kebalikan daripada invers sama halnya dengan
konvers, hanya pernyataan majemuknya merupakan negasi atau ingkaran.
Misalkan invers “~p => ~q” . Maka kontraposisi nya adalah “~q => ~p”.
g. Pernyataan berkuantor dan ingkarannya,
Pernyataan
kuantor yaitu bentuk pernyataan yang didalamnya terdapat konsep
kuantitas. terdapat dua jenis kuantor, yaitu kuantor universal dan
kuantor eksistensial.
- Kuantor universal digunakan dalam pernyataan yang menggunakan konsep setiap atau semua
- Kuantor eksistensial digunakan dalam pernyataan yang mengandung konsep ada, sebagian, beberapa, atau terdapat.
Pernyataan
berkuantor memiliki negasi atau ingkaran. Negasi dari berkuantor
universal adalah kuantor eksistensial begitu juga sebaliknya. Perhatikan
contoh berikut.
- p : beberapa mahasiswa memiliki semangat belajar yang tinggi
- ∼p : semua mahasiswa tidak memiliki semangat belajar yang tinggi
h. Penarik kesimpulan (Modus Ponen, modus tollens, Modus Silogisme)
Kesimpulan
dapat dilakukan dari beberapa pernyataan yang diketahui nilai
kebenarnya yang disebut premis. Kemudian dengan menggunakan
prinsip-prinsip yang ada diperoleh pernyataan yang baru yang disebut
kesimpulan/konklusi yang diturunkan dari premis yang ada.
1. Modus Ponen
Modus ponen ialah konsep penarikan kesimpulan yang dimana apabila "p →q" dan diketahui "p" maka dapat di tarik kesimpulan "q"
Contoh :
p →q : Jika hari ini hujan, maka tanah jadi basah
p : hari ini hujan
kesimpulan :
q : tanah jadi basah
2, Modus Tollens
Modus tollens ialah konsep penarikan kesimpulan apabila ada pernyataan
majemuk "p →q" dan diketahui "~q" maka dapat ditarik kesimpulan "~p"
Contoh :
p →q : Jika hari ini hujan, maka tanah jadi basah
~q : tanah tidak basah
kesimpulan :
~p : hari ini tidak hujan.
3. Sillogisme
Silogisme adalah konsep penarikan kesimpulan apa bila ada pernyataan "p
→q" dan di ketahui "q →r" maka dapat ditarik kesimpulan "p →r"
Contoh :
p →q :Jika hari ini hujan, maka tanah jadi basah
q →r : jika tanah jadi basah, maka tanaman jadi subur
kesimpulan :
p →r : jika hari ini hujan, maka tanaman jadi subur
i. Table logika
matematika
|
p
|
q
|
~p
|
~q
|
p^q
|
pvq
|
p → q
|
p
↔ q
|
|
B
|
B
|
S
|
S
|
B
|
B
|
B
|
B
|
|
B
|
S
|
S
|
B
|
S
|
B
|
S
|
S
|
|
S
|
B
|
B
|
S
|
S
|
B
|
B
|
S
|
|
S
|
S
|
B
|
B
|
S
|
S
|
B
|
B
|